Google

PKS Success Story : Road To 2009 Headline Animator

Monday, December 17, 2007

Parpol Rok Mini, Platform Bertato

Parpol Rok Mini, Platform Bertato
Ismoko Widjaja - Okezone

Preman atau bekas preman, anak gaul atau hampir gaul, yang trendi atau ketinggalan zaman, ternyata bukan menjadi stereotip belaka. Kini, predikat-predikat tersebut di atas tengah menjadi sasaran bagi para partai politik (parpol) di Tanah Air. Tujuannya sih simple saja, demi mendulang suara di Pemilihan Umum (pemilu) 2009 mendatang.

Parpol-parpol di negeri ini melihat ada potensi suara di kalangan anak muda. Melihat tren suara dan keberpihakan terhadap partainya yang semakin menurun, maka segala cara dan strategi pemasaran parpol pun dikeluarkan. Strategi pemasaran parpol terasa mulai dari gerakan kemanusiaan sampai mudik gratis.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terlihat sigap ketika bencana alam terjadi. Mereka langsung mendirikan tenda penampungan, dapur umum, dan menyiapkan tempat tinggal darurat bagi para korban. PDI Perjuangan (PDIP) setiap tahunnya terbilang sukses memboyong para urban di Jakarta untuk mudik ke daerah masing-masing ketika Lebaran berlangsung. Partai Golkar juga sempat membagi-bagikan nasi bungkus gratis kepada para penumpang mudik kereta api.

Meski bantuan itu atas nama satu bendera partai. Sah-sah saja. Yang penting rakyat puas, senang, dan nyaman. Tapi, kalau untuk soal pilihan, tetap tergantung masing-masing orang. Dalam teori marketing, apa pun dilakukan demi mendongkrak suara dan mencapai target jumlah massa untuk satu momen, pemilu.

Seperti halnya tukang obat dan tukang dagang lainnya. Mereka berkoar-koar dagangannya adalah nomor satu, tidak ada yang dapat menandingi. Ada istilah, Ngga ada kecap yang nomor dua, semuanya nomor satu. Nah! Begitu juga dengan "teknik menjual" parpol. Segala cara pun dilakukan. Dari yang menarik simpati rakyat, empati, sentimen, sampai decak kagum mengemuka bila kita menyadari cara-cara politisi menjual partainya masing-masing.

Bila dianalogikan sebagai perusahaan. Manejemen pemasaran dalam parpol itu mengedepankan mahzab partainya setiap kali menjual kepada para calon pemilih potensial dan warga masyarakat lainnya. PKS memiliki segmen kaum muda yang Islami, meski saat ini dalam koalisinya sering menggandeng partai yang tidak se-ide. Nasionalisme yang dikumandangkan PDIP terus digembar-gemborkan. Meski kini partai Banteng Moncong Putih itu, merapat ke Muhammadiyah dan lalu membentuk Baitul Muslimin. Partai Golkar juga setali tiga uang.

Kini, pemain lama dan partai baru lainnya mengeluarkan inovasi baru dalam strategi marketing partai. Dari sisi ekonomi, teknik pemasaran yang selalu menelorkan cara-cara baru, justru sangat dianjurkan. Apa pun jenisnya, asalkah output alias hasil akhir dari teknik pemasaran itu dapat meningkatkan penjualan. Begitu juga dengan manajemen pemasaran di parpol. Apa pun strategi pemasarannya, asalkan dalam hitung-hitungan di atas kertas menunjukkan hasil akhir kenaikan yang signifikan, maka cara apa pun patut dilakukan.

Khawatir ada yang kesinggung. Sebenarnya bukan cara apa pun, melainkan strategi jitu lainnya. Pada prinsipnya, terobosan jitu itu ternyata dilakukan dua partai yang punya judul Islam dalam platform-nya. Pemain lama, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pemain baru, Partai Bulan Bintang yang ganti nama menjadi Partai Bintang Bulan (PBB).

Mengejutkan! Dua gerbong yang notabene partai Islam kini punya strategi jitu, canggih, inovatif, tapi nyeleneh! Dengan dalih ingin merangkul semua pihak, baik yang muda dan muda. Intinya, para punggawa-punggawa di parpol tidak ingin jargon Islam membatasi para pemilih dan pengikut untuk bergabung.

Wanita yang hobi mengenakan rok mini dan siapa pun yang memiliki tato, kini dapat bernapas lega. Selain keberadaan mereka semakin diakui, kedua komunitas itu juga sangat diperhitungkan. Buktinya, PPP dan PBB tak sungkan-sungkan, tanpa malu-malu mendeklarasikan ingin merekrut komunitas yang tak tersentuh politik itu ke dalam gerbong partai.

"Saya sudah minta izin ulama, kita akan rekrut pria yang mewarnai rambutnya dan beranting, begitu juga dengan wanita yang ber-rok mini," kata Ketua Umum PPP Suryadharma Ali di acara pelatihan kader PPP, Jumat 14 Desember lalu. Alasan pentolan PPP yang juga Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah itu, sederhana saja. "Jika selama ini PPP disebut partai orang tua, kita akan ubah citra itu," tegas Suryadharma.

PPP tidak sendiri, PBB juga punya taktik sama. Partai berplatform Islam itu, juga menggemborkan strategi yang sama. "PBB sendiri bukan hanya orang Islam yang pilih, tapi juga ada orang Katholik, Kristen, dan Hindu. Bukan juga orang berjilbab tapi juga ada rok mini, orang bertato itu bisa," ujar petinggi PBB Ali Mochtar Ngabalin kepada okezone, Senin (17/12/2007).

Memang tak disangka, pernyataan ironi itu keluar dari para petinggi partai Islam di Tanah Air. Memang tidak salah donk! Namanya juga jualan, asalkan itu tidak merugikan orang-orang lain bisa dianggap sah-sah saja. Tapi, apa kata partai yang juga membawa nama Islam lainnya. "Dalam kacamata dakwah, boleh saja, maksudnya agar mereka bisa didakwahi sehingga bisa lebih Islami gaya hidupnya," ujar Wasekjen PKS Al Muzamil Yusuf ketika berbincang dengan okezone.

Jadi, untuk pemilu 2009 para pemilih masyarakat Indonesia kembali ditawarkan pilihan-pilihan yang semakin tidak jelas. Partai nasionalis, platform Islam, jargon liberal, sosialis dan lain sebagainya bertarung mati-matian hanya demi perolehan suara. Mulai kini, masyarakat tak perlu kaget bila ketemu Partai Rok Mini, platform bertato. Sangar kan!!! (*)

No comments: