Google

PKS Success Story : Road To 2009 Headline Animator

Thursday, December 20, 2007

Sesalkan Jawa Tengah Urutan 15 IPM

Sesalkan Jawa Tengah Urutan 15 IPM

Menurut Fikri masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan pelayanan sosial dasar saat ini berakibat rendahnya produktifitas dan kapasitas kerja. “Padahal menurut renstra 2003-2008, tahun 2007 adalah tahun meningkatkan daya saing, bagaimana bisa bersaing jika SDM kita tertinggal, “ tegasnya.

PK-Sejahtera Online: Semarang, Provinsi Jawa Tengah saat ini berada pada urutan ke 15 secara nasional Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Angaka IPM tersebut ditentukan oleh pertama kondisi kesehatan dengan indikator Usia harapan hidup(UHH) , kedua kondisi pendidikan dengan indikator angka melek huruf dan lama sekolah, dan ketiga kempauan daya beli dengan idikator pengeluaran perkapita.

Pada tahun 2006 capaian komponen pembentuk IPM di Jawa Tengah, untuk UHH sebesar 70,6, Angka Melek Huruf sebesar 87,4, rata-rata lama sekolah 6,6 tahun, pengeluaran riil perkapita tercatat Rp 621.4000,-

Ketua FPKS DPRD Jawa Tengah Drs. A. Fikri Faqih, MM usai mengikuti forum konsultatif penyusunan Program Indikatif Provinsi Jawa Tengah selasa (18/12) menyesalkan kenapa pencapaian standar IPM Jawa Tengah sangat rendah. “ Provinsi yang ada di Pulau Jawa kan hanya ada enam, kenapa kita kalah dengan propinsi di luar Jawa, secara fasilitas dan kesempatan harusnya kita bisa lebih baik, pasti ada sesuatu yang salah,’ungkapnya.

Menurut Fikri masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan pelayanan sosial dasar saat ini berakibat rendahnya produktifitas dan kapasitas kerja. “ padahal menurut renstra 2003-2008, tahun 2007 adalah tahun meningkatkan daya saing, bagaimana bisa bersaing jika SDM kita tertinggal, “tegasnya.
Fikri menambahkan salah satu yang menyebabkan lambatnya pemerintah Jateng dalam peningkatan SDM adalah tidak ada progres yang jelas serta tahapan-tahapan untuk mengurai permasalahan dasar di Jawa Tengah, “tiap tahun pokok permasalahanya sama kemiskinan, kesenjangan antar daerah, minimnya pelayan publik, akses pendidikan minim, namun tidak ada acuan yang jelas untuk melakukan evaluasi penyelesaianya, menyebabkan kita seperti orang buta yang melangkah tanpa arah,”lanjutnya.

Fikri berharap perlu segera disusun parameter kuantitatif yang jelas dari setiap pokok program pembangunan daerah. “ bukan hanya parameter kualitatif, kapan separo kemiskinan akan diselesaikan, kapan semua masyarakat kita bisa bersekolah, dan program-program yang lain,”lajutnya. (PKS Jawa Tengah)

No comments: