Google

PKS Success Story : Road To 2009 Headline Animator

Friday, December 14, 2007

Strategi Dakwah dan Demokrasi, Beginikah?

Strategi Dakwah dan Demokrasi, Beginikah?

Saat ini, Indonesia tengah menjadi harapan dunia. Banyak aktivis dan masyarakat muslim dunia banyak berharap terhadap saudara-saudaranya di Indonesia. Mengapa? Karena kondisi Indonesia yang lumayan save dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Tidak salah bila kemudian kita beridealisme Indonesia bisa menjadi pilot project negara Islam sekaligus ujung tombak berdirinya khilafah Islamiyah.

Dari sekian banyak negara-negara didunia yang memiliki penduduk muslim, masing-masing memiliki sikon yang berbeda. Indonesia merupakan negara demokrasi dimana semua pemikiran dan pergerakan (kecuali komunis dan asal tidak vulgar) bisa menyebarkan ide-idenya. Demokrasi, sebuah sistem yang bagi sebagian kaum muslim dianggap sistem sekuler karena berasal dari Barat, sehingga haram bagi kita untuk berada didalamnya. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi demokrasi, terkait dengan tujuan kita sebagai elemen pergerakan Islam?

Demokrasi itu sekuler, tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Yang jelas, demokrasi adalah sebuah frame berpikir yang tidak berasal dari rosullulloh SAW. Sistem ini dianggap adil karena dapat menampung semua kepentingan dari tiap-tiap golongan yang berada pada suatu negara. Sebagian besar negara didunia menganut sistem demokrasi, entah demokrasi terpimpin yang kekiri-kirian atau demokrasi liberal yang dianut oleh sebagian negara Barat.

Saat ini kita tengah berada pada sistem tersebut. Barangkali ada saudara kita yang karena alasan ideologis memilih keluar dari STAN atau memilih menggunakan wesel daripada ATM karena tidak ingin banyak terlibat dalam sistem kapitalis. Atau sebagian muslim yang memilih untuk tidak memilih dalam Pemilu sebagai bentuk penolakan terhadap sistem demokrasi. Bagaimanapun, kita tetap memiliki KTP atau SIM yang sama-sama berasal dari sistem tersebut. Kita tidak bisa mungkir bahwa kita selalu dan akan selalu terlibat meski hanya dalam hal yang sangat sepele. Termasuk saat kita mulai menyebarkan fikrah kita, bagaimana kita ingin melepaskan diri dari sistem demokrasi?

Dalam sebuah negara demokrasi, sesuatu yang benar dianggap salah apabila tidak legal. Sebaliknya, sesuatu yang salah sangat mungkin untuk menjadi benar apabila telah dilegalkan. Lantas, apakah kita akan mengubah pandangan hukum positif tersebut? Tentu saja akan sangat sulit. Sama saja dengan menantang perang karena berarti kita bermain-main dengan UUD yang telah ditetapkan jauh sebelumnya. Yang harus kita lakukan kemudian adalah, bagaimana membuat sesuatu yang salah menjadi tidak legal dan sebaliknya.

Perubahan menuju kesana membutuhkan banyak perubahan-perubahan kecil yang memaksa kita untuk masuk kedalam sistem. Demokrasi adalah sebuah pemikiran bangsa lain dimana kita telah terperangkap didalamnya. Kita akan kesulitan mengubahnya tanpa terlibat dan berinteraksi langsung serta membaca sikon didalamnya. Anis Matta mengibaratkan hal ini sebagai sebuah proyek peradaban yang terbagi menjadi empat tahapan yaitu mihwar tanzhimi, mihwar sya'bi, mihwar muassasi dan mihwar dauli.

Mengapa seperti itu? Karena Indonesia bukan Palestina yang menuntut kita untuk melakukan aksi bom syahid. Karena Indonesia bukan Mesir yang dimana aktivis pergerakan Islam ditangkapi dan dipenjarakan. Karena Indonesia bukan Amerika yang (ngakunya) menampung segala bentuk aspirasi sebebas-bebasnya. Ini adalah Indonesia, dan kita punya aturan sendiri, Bung!

Referensi : Menikmati Demokrasi [Anis Matta]

No comments: